Langsung ke konten utama

Bersinergi dalam Persaudaraan

Aphids, Insects, Ants, Reproduction Of, Nature
pixabay
Sistem kehidupan memberikan pilihan kepada kita, apakah menempuh jalan yang baik atau jalan yang berliku. Selaras dengan perjalanan hidup manusia, kita dihadapkan kepada pilihan-pilihan. Salah satunya dalam dimensi sosial ada pilihan individu atau pilihan bersama.

Pilihan demesi sosial merupakan takdir. Ya menjadi makhluk sosial. Demensi ini amat tergantung kepada orang lain. Karena itu, kita pun pada akhirnya diikat oleh ikatan-ikatan sosial, entah itu yang namanya keluarga, masyarakat, etnis, suku, warna kulit, maupun budaya.

Namun belakangan , kalau kita amati secara seksama, ikatan-ikatan itu kian rapuh dan goyah. Kita seolah berjalan menuju masyarakat yang tidak mengindahkan sisi sosial kita. Tawuran dalam skala kecil maupun besar terjadi dimana-mana. Baik berbentuk tawuran antar pelajar, antar suku , dan perang antar bangsat. Toleransi yang dulu beradab adab kita sebagai masyarakat pelan pelan raip seiring menguatnya kepentingan pribadi dan golongan, kita mulai tidak empati pada penderitaan orang lain. Orang lain menjadi benar benar orang lain.

Agama islam mengajarkan kita hidup penuh penghargaan dan penghormatan kepada sesama manusia. Dalam surat surat al- Hujarat ayat 13, Allah berfirman :

 “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Aku ciptakan kamu daari seorang pria dan wanita, lalu aku jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku agar kamu membangun kehidupan bersaudara.”

Oleh karena itu , solusi terbaik dalam mengatasi masyarakat yang rapuh, adalah menjadikan semua orang saudara bagi kita. Dalam islam, persaudaraan tidak selalu diikat melalui ikatan agama semata. Ya ada persaudaraan yang diikat oleh keimanan dan keislaman, atau yang sering disebut sebagai ukhuwah islamiyyah Nabi bersabda,

 “Sesama muslim adalah saudara.” Apapun status sosial mereka apapun pangkat dan jabatan mereka , selama kemuslimanan ada dalam diri mereka, mereka bersaudara.

Selanjutnya, ada jenis persaudaraan yang diikat oleh ikatan kebangsaan. Mungkin agamanya berbeda, namun karena hidup di bawah panji Indonesia, maka sesama anak bangsa harus bersaudara. Karena itu, kita dianjurkan berlaku adil kepada mereka walaupun agamanya berbeda. Dalam suratul- Mumtahanah ayat 8 , Allah berfirman :

 “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Selain ikatan agama dan kebangsaan, kita mengenal ikatan kemanusiaan (ukhuwah alinsaniyah). Dalam hadis yang amat masyhur Nabi mengatakan, irhamu man fil ardi yarhamukum man fissamai. "Kasihilah mereka yang berada di bumi, maka engkau akan dikasihi mereka yang beradadi langit." Jadi hadis ini mendorong kita mengasihi siapapun dan apapun yang ada di bumi. Tidak kepada manusia semata, namun kepada binatang, tetumbuhan, tanah, dan apapun yang di bumi.

Dalam sebuah hikayah diceritakan, setelah wafatnya imam besar al-Ghazali, seorang ulama bermimpi. Di dalam mimpinya, dia bertemu imam alGhazali berada di surga. Ulama tadi lantas bertanya, apakah karena zuhudmu engkau dimasukka1'l. di surga? Jawab al-Ghazali, bukan. Kemudian ulama tadi bertanya lagi, apakah karena ilmumu yang luas? Jawab al-Ghazali, bukan. Apakah karena ibadahmu yang rajin? Jawab al-Ghazali, bukan. 

Lantas karena apa. Maka al-Ghazali mengatakan, karena kasih sayangku terhadap lalat yang tercebur di tinta sewaktu aku hendak menulis. Lalat itu aku biarkan meminum tintaku sepuasnya. Aku menahan diri tidak memasukkan pena, supaya lalat itu bebas minum. Setelah minum, kubiarkan lalat itu terbang dengan tenang. Begitulah. Karena kasih sayangku kepada binatang kecil tersebut, Allah mengasihiku dan memasukkanku ke dalam surga.

Kalau kita pakai logika sederhana, mengasihi lalat saja mendapat kehormatan yang tinggi, apatah lagi kalau mengasihi bangsa manusia. Oleh karena itu, tanpa melihat warna kulit, ras, suku dan agamanya, mari kita kuatkan penghormatan kita kepada orang lain. Bangsa ini akan kuat, ke sesama anak bangsa saling mencintai. Solusi kedua, meningkatkan keimanan keislaman. Jika selama ini kita menjadi muslim mari kita tingkatkan menjadi mukmin, kalau sue mukmin mari kita tingkatkan menjadi muh (orang yang gemar melakukan kebaikan). Firman Allah,

"Orang-orang yang mampu menan emosinya dan mau memaajkan sesamanya, seperti itu adalah yang dicintai oleh Allah kare mau berbuat ihsan." Tatkala Nabi bertemu Abdul Qais, berkata,

"Di dalam dirimu ada dua sifat yang dicini Allah, yaitu santun dan lemah lembut." Dalam hadits lain, Nabi juga mengatakan, "Sesungguhnya Allah itu lemah lembut, dan dia senang dengan siapa yang suka lemah lembut."

Dalam masyarakat yang rapuh, dibutuhkan kemampuan mengendalikan diri, bersikap santun dan ramah. Jika sikap itu dapat kita laksanakan maka negara Indonesia yang kita cintai ini akan tetap lestari di bumi persada ini.
Inilah toleransi, jika setiap individu paham dia harus menghormati sesamanya, maka kekuatan sosial masyarakat akan menjadi kuat. Hal ini akan memudahkan mencapai tujuan bersama yang dicita-citakan.

Semoga kode jalan bersinergo dalam persaudaraan menjadi cara agar kita kuat.

Komentar