![]() |
| pixabay |
Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman :
“ Dan hamba- hamba yang baik dari Rabb Yang Maha
Penyayang itu ( ialah ) orang- orang yang berjalan di atas muka bumi dengan
rendah hati dan apabila orang- orang jahil yenyapa mereka, mereka mengucapkan
kata- kata ( yang mengandung ) keselamatan. “ (QS. Al- Furqon: 63 )
“ Dari Aisyah RadhiyallahuAnha, ia berkata, “aku
tidak pernah lihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tertawa hingga terlihat lidahnya.
Akan tetapi, beliau hanya sekedar tersenyum. ( Muttafaq Alaih )
Dalam syarah
Riyadus Shalihin syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsmaimin berkata, dalam Bab Kewibawaan dan Ketenangan. Ia menyebutkan
bahwa Al- Waqqar merupakan penampilan
seorang hamba. Dan ketika orang yang melihatnya akan menaruh rasa segan dan
hormat kepadanya.
As- Sakiinah adalah tidak terlalu banyak bergerak dan tidak
gegabah, justru bersikap tenang, baik dalam hati, gerak- gerik dan bicaranya.
Tidak diragukan
lagi bahwa kedua sifat ini termasuk sifat baik yang dianugrahkan Allah kepada
seorang hamba- Nya.Adapun orang yang memiliki sifat kebalikan dari kedua sifat
ini adalah orang yang tidak memiliki jati diri, tidak berwibawa, gegabah,
bahkan ia telah menghinakan dirinya sendiri.
Demiian juga
lawan dari sifat sakinah adalah orang yang terlalu banyak bergerak, menoleh ke
sana ke mari. Tidak terlihat ketengangan dalam hati, gerakan dan ucapannya.
Apabila Allah menganugrahkan kedua sifat ini kepada seorang hamba berarti ia
telah mendapatkan dua sifat yang mulia.
Al- ‘Ajalah adalah lawan dari sifat sakinah, yakni seorang
yang memiliki sifat gegabah dan tergopoh-gopoh, tidak terlihat tenang, suka
mengutip berita- berita burung yang telah dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau
pernah melarang mengutip berita dari sumber- sumber yang tidak jelas, melarang
banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta. Apabila seseorang tidak bersikap
tenang dalam meyelesaikan urusannya maka akan terjadi kekeliruan sehingga
orang- orang tidak mau lagi mempercayai setiap omongannya. Kemudian penuls Rahimahullah berdalilkan dengan firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan hamba- hamba yang baik dari Rabb Yang Maha
Penyayang itu ( ialah ) orang- orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah
hati dan apabila orang- orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-
kata (yang mengandung) keselamatan. “ (QS. Al – Furqon:63)
“Dan hamba- hamba yang baik dari Rabb Yang Maha
Penyayang. “ yaitu orang-
oran yang mendapat rahmat dan taufiq
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melakukan kebaikan. Merekalah yang
berjalan di atas muka bumi Allah dengan rendah hati. Yaitu ketika engkau
melihat salah seorang dari mereka, maka engkau akan melihatnya seorang yang
sedang berjalan tenang dan tidak tergopoh- gopoh.
“Apabila orang- orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata- kata (yang mengandung) keselamatan. “ Yaitu mengucapkan kalimat yang dapat
menyelamatkan mereka dari kejahatan orang bodoh tersebut. Jadi, bukan artinya
mengucap-kan salam. Tapi maknanya, apabila orang bodoh itu menyapa mereka, maka
mereka akan mengucapkan kata-kata yang dapat menyelamatkan diri mereka dari kejahatan
orang jahil tersebut.
Bisa jadi menolaknya dengan cara yang baik atau dengan
sikap diam, jika diam itu lebih baik. Yang penting bagaimana caranya agar
mereka melepas dari kejahatan oang bodoh tersebut. Sebab orangbodoh biasanya
akan menjadi penyebab suatu masalah. Jika engkau bertengkar dengannya, dengan
spontan ia akan membalasnya dengan perkataan yang buruk, bahkan bisa jadi ia
akan melontarkan ucapan yang jelek terhadap sesuatu yang baik. Seperti mecela
agama dan yang semisalnya. Wal
‘iyaadzubillah.
Diantara taufiq
yang diberikan Allah kepada hamba- hamba-Nya adalah apabila orang jahil menyapa
mereka, mereka akan mengupakan kata-kata yang baik. Akni mereka mengucapkan
perkataan yang dapat melepaskan dii mereka dari dosa. Diantara sifat mereka
yang lain:
“ Dan orang- orang yang tidak memberikan kesaksian
palsu. “ Yaitu tidak mau melakukan
persaksian dusta atau dusta atau perbuatan buruk lainnya.
“ Dan apabila mereka bertemu denga (orang- orang) yang mengerjakan perbuatan –
perbuatan yang tidak berfaedah.” Yaitu mereka yang melakukan perbuatan yang tidak mengandung kebaikan dan
tidak juga mengandung keburukan, “mereka
lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” Yaitu berlepas diri dari
perbuatan yang sia-sia tersebut.Segala sesuatu memiliki tiga kemungkinan:
kemungkinan baik, kemungkinan buruk atau termasuk perkara yang laghwu, tidak baik dan tidak pua buruk.
Adapun sesuatu yang buruk maka tidak boleh disaksikan. Untuk yang laghwu harus dilalui dengan menjaga diri
dari perbuatan yang sia-sia. Dan untuk sesuatu yang baik harus disaksikan dan
menggabungkan diri ke dalamnya.
Kemudian penulis Rahimahullah menyebutkan hadits Aisyah Radhiyallahu Anha bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alihi wa Sallam tidak pernah
tertawa lebar hingga terlihat lidahnya. Maksudnya beliau tidak pernah tertawa
sampai terbahak- bahak dengan mebuka mulutnya hingga terlihat gigi gerahamnya.
Ini menunjukkan kewibawaan Nabi Shalallahu
Alaihi wa Sallam.
Oleh karena itu,
engkau banyak menemukan orang rendahan apabila tertawa, ia tertawa sampai
terbahak- bahak dan tanpa malu- malu mebuka mulutnya selebar- lebarnyadi
hadapan orang ramai. Tidak akan dipandang dan sangat tidak berwibawa di hadapan
orang lain. Adapun seorang yang suka tersenyum sesuai pada tempatnya, akan
membuat orang lain suka dan senang melihatnya serta hatipun tenang dengan kehadirannya.
Semoga bermanfaat
dan menjadikan kita mendapatkan barakah dari Allag SWT.
Sumber: Syarah Riyadus Shalihin

Komentar
Posting Komentar