Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau
lapang Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tamu yang disambut dan
diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan
(selamat datang Ramadhan), memiliki makna setiap muslim menyambut Ramadhan
dengan lapang dada, penuh kegembiraan, dan tiada keluhan. Rasulullah
senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Berita gembira
tersampaikan juga ke para sahabatnya dalam sabdanya:
"Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan,
bulan yang penuh keberkatan.
Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di
dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka
dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari
seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka
sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan" (HR. Ahmad)
Marhaban ya Ramadhan, adalah ungkapan kegembuaraan
setiap muslim karena setiap muslim berharap agar jiwa raga kita diasah dan
diasuh guna melanjutkan guna menjadi orang yang bertaqwa disisi Allah swt. Perjalanan
menuju yang penuh ujian dan tantangan. Namun, jika kehendak tetap membaja, akan
tampak petunjuk jalan kemenangan, dan tampak rambu-rambu jalan, yang akan
mengantar kita kepada kemenangan ramadhan.
RAMADHAN BULAN BERKAH
Salah satu sifat Allah SWT yaitu irodah (kehendak),
sebagaimana firmanNya : "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki
dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan
Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)." (QS Al
Qoshosh [28]:68).
Allah memilih sesuatu yang dikehendakiNya. Allah
memilih tempat yang dikehendakiNya. Allah memilih manusia yang dikehendakiNya,
pilihanNya sendiri ada yang menjadi Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb.
Allah memilih gua Hiro' yang dikehendakiNya sebagai tempat pertemuan Rasul dan
Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendakiNya sebagai kiblat kaum
Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah
dalam menyebarkan risalah Ilahi. Begitu pula halnya dengan bulan-bulan
dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang
namanya disebutkan dalam Al Qur-an. Firman Allah:
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir
(di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada
bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur." (QS Al Baqoroh [2]:185).
Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud
tertentu dibalik kehendakNya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud,
untuk menyampaikan risalah-Nya.Demikian juga Ramadhan, sebab Allah tidak akan
mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu.
Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya'ban, selalu mengatakan
kepada sahabatnya :
"Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu
segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa
segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu." (HR. Ath
Thabrani)
Dalam sabdanya yang lain : "Sesungguhnya
telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan
berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci
segala pintu Neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang
lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam
itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan." (HR. An
Nasai dan Al Baihaqi)
Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah
Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada
bulan Ramadhan, di antaranya adalah:
Bulan diturunkannya Al Qur-an
Firman Allah : "(Beberapa hari yang ditentukan
itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al
Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)." (QS Al
Baqarah [2]:185) Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar
Razi berkata : "Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan
menurunkan Al Qur-an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah
yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang
mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi
yang Maha Quddus. Al Qur-an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah
yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat
Islam di seluruh dunia.
Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya
Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitabNya
yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:
"Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat
diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al
Qur-an diturunkan pada 24 Ramadhan." (HR. Ahmad) Itulah keberkahan bulan
Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan
manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan
dirinya.
Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr
Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana
perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da'wah yang dilakukan oleh
Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan
sebutan "yaumul furqon" (hari pembeda antara yang haq dan bathil),
sebagaimana firmanNya :
"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat
kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah,
Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika
kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami
(Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al Anfal [8]:41).
Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang
ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan
pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT
memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim,
ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena
sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya.
Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin
adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah
SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang
ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh
tahapan-tahapan perjuangan da'wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia,
bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan
negara.
Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah.
Peristiwa "fathul makkah" terjadi pada
pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari
segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada
bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya
menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah
Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan
bukan kemenangan individual atau balas dendam.
Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar
Dijelaskan dalam firman Allah SWT : "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya
(Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS
Al Qadr [97]:1-5)
Demikian pula ramadhan adalah bulan yang dipilih
untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. Firman Allah :
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa." (QS Al Baqarah [2] : 183).
Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di
bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil
Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat
sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat
mereka diikuti kaum Muslimin. Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum
Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta
puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah
bulan ini.

Komentar
Posting Komentar