![]() |
| pixabay |
Pendahuluan
Mengesakan Allah adalah dasar tauhid dalam Islam. Maka tiada sekutu atasNYA dan tiada satupun yang menyamaiNYA. Pemahaman dan dasar ini tidak boleh luntur bahkan hilang dari setiap diri seorang muslim. Bagaimana dasar-dasarnya, inilah yang disampiakan Syaikh Muhammad At-Tamimi.
Beliau mengatakan, Ketahuilah,
bahwa sesunguhnya kelurusan ajaran Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah
beribadah
kepada Allah secara ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah
berfirman
[artinya]:
"Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
kepada-Ku. (Adz-Dzariyaat1:56)
Dan
Apabila telah tahu bahwasanya Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka
ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut ibadah kecuali bila disertai dengan
tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai dengan
bersuci. Bila ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana
rusaknya shalat bila disertai adanya hadatz (tidak suci). Allah berfirman
[artinya]:
" Tidaklah pantas orang-orang musyrik
itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri
kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di
dalam neraka" (At-Taubah: 17)
Oleh
karena itu, perlu dipahami bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan merusak
ibadah itu sendiri. Dan ibadah yang bercampur dengan syirik itu akan
menggugurkan
amal sehingga pelakunya menjadi penghuni neraka, Allah berfirman
[artinya]:
"Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu,
bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka
sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (An-Nisaa': 48)
Kemurnian
ibadah akan mampu dicapai bila memahami 4 kaidah yang telah Allah
nyatakan
dalam firman-Nya:
Kaidah Pertama
Selanjutnya beliau berpendapat, Anda harus mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi rizki,
Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang memberi manfa'at, Yang memberi madzarat,
Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). Tetapi semuanya itu tidak menyebabkan
mereka sebagai muslim, Allah berfirman:
"Katakanlah: 'Siapa yang memberi rizki kepadamu dari
langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan
penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa
yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab:'Allah'. Maka katakanlah:'Mengapa
kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]." (Yunus:31)
Kaidah Kedua
Mereka
(musyrikin) berkata :"Kami tidak berdo'a kepada mereka (Nabi, orang-orang
shalih
dll)
kecuali agar bisa mendekatkan kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi syafa'at.
Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka. Namun hal tersebut dilakukan dengan
cara melalui syafaat dan mendekatkan diri kepada mereka". Dalil tentang
mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]:"Dan orang-orang yang
mengambil pelindung selain Allah (berkata):
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya
Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka
berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang
pendusta dan sangat ingkar" ( Az-Zumar: 3)
Maka dalil tentang syafa'at yaitu firman Allah [artinya]:
"Dan
mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan
kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, dan mereka berkata:"Mereka
itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah".
Katakanlah:"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya
di langit dan tidak [pula] di bumi" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari
apa yang mereka mempersekutukan [itu]." (Yuunus: 18)
Syafa'at
itu ada 2 macam:
Syafa'at
munfiyah (yang ditolak)
Syafa'at
mutsbitah (yang diterima)
Syafa'at
munfiyah adalah syafa'at yang dicari dari selain Allah. Sebab tidak seorangpun yang
berkuasa dan berhak untuk memberikannya kecuali Allah, Allah berfirman
[artinya]:
"Hai
orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki
yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak
ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada
lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.
(Al-Baqarah: 254)
Adapun
syafa'at mutsbitah adalah syafa'at yang dicari dari Allah. Pemberi syafa'at itu
dimuliakan dengan syafa'at, sedangkan yang diberi hak untuk memberikan syafa'at
adalah orang yang diridhai Allah, baik ucapan maupun perbuatannya setelah
memperoleh izin- Nya. Allah berfirman [artinya]:
"Siapakah yang mampu memberi syafa'at disamping Allah
tanpa izin-Nya?" (Al-Baqarah:255)
Kaidah Ketiga
Sesungguhnya
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan kapada manusia tentang macam-macam
sistem peribadatan yang dilakukan oleh manusia. Diantara mereka ada yang
menyembah matahari dan bulan, diantara mereka ada pula yang menyembah orangorang
shaleh, para malaikat, para wali, pepohonan, dan bebatuan. Mereka semua
diperangi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dalilnya adalah
firman Allah [artinya]:
"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan
dien ini menjadi milik Allah semuanya."(Al-Baqarah:193)
Sedangkan
dalil larangan beribadah kepada matahari dan bulan adalah firman Allah
[artinya]:
"Dan
sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.
Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi
bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja
menyembah."(Fushilat:37)
Dan
dalil larangan beribadah kepada orang-orang shaleh adalah: "Katakanlah:'Panggillah
mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai
kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya'.
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb
mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab
Rabbmu adalah sesuatu yang [harus] ditakuti. (Al-Ishra:56-57)
Adapun
dalil tentang larangan beribadah kepada para malaikat adalah:
"Dan [ingatlah] hari yang di waktu itu] Allah mengumpulkan
mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:"Apakah mereka
ini dahulu menyembah kamu?" Malaikat-malaikat itu menjawab:"Maha Suci
Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah
jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".Maka pada hari ini
sebahagian kamu tidak berkuasa [untuk memberikan] kemanfaatan dan tidak pula
kemudharatan kepada sebahagian yang lain.Dan Kami katakan kepada orang-orang
yang zalim:"Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan
itu". (Sabaa': 40-42)
Larangan
beribadah kepada para Nabi dalilnya:"Dan [ingatlah] ketika Allah
berfirman:"Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:"Jadikanlah
aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah". 'Isa menjawab:"Maha Suci
Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya
maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak
mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
perkara yang ghaib-ghaib"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali
apa yang Engkau perintahkan kepadaku [mengatakannya] yaitu:"Sembahlah Allah,
Rabbku dan Rabbmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka
setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan
Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka,
maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka,
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(Al-Maidah:116-118)
Adapun
dalil tentang larangan penyembahan terhadap pepohonan, bebatuan adalah haditsAbi
Waqid Al-Laitsi, dia berkata: " Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam menuju Hunain. Kami adalah para pemuda yang telah mengenal
bentuk-bentuk kesyirikan. Orang-orang musyrik mempunyai tempat duduk untuk
beristirahat dan menggantungkan senjata. Tempat itu dikenal sebagai Dzatu
Anwath. Lalu kami melalui pohon bidara dan [sebagian] kami mengatakan:
"Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang
mereka (musyrikin) miliki. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Allahu Akbar, itu adalah assunnan (jalan), kamu kamu telah mengatakan -demi
dzat yang menguasai diriku sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israel
kepada
Musa, "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana
mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)". Musa menjawab:"Sesungguhnya
kamu ini adalah kaum yang bodoh". Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan
kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa
menjawab:"Patutkah aku mencari Ilah untuk kamu yang selain dari pada Allah,
padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat."
(Al-A'raf:138-140)
Kaidah Keempat
Selanjutnya Beliau menyampaikan, sesungguhnya
kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin zaman
dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdo'a secara ikhlas kepada Allah
ketika mereka ditimpa bahaya, akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka
dalam keadaan senang.
Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang, hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Qur'an:
Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang, hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Qur'an:
"Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo'a kepadaAllah
dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka
sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah], agar
mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka
(hidup) bersenang-senang [dalam kekafiran]. Kelak mereka akan mengetahui
[akibat perbuatannya]." (Al-Ankabut: 65-66)
Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Komentar
Posting Komentar